BOLMONG – Desa Bakan kembali membara, namun bukan karena emasnya, melainkan karena amukan banjir bandang yang tak kunjung usai, Jumat (20/02/2026) lalu.

Aktivitas pertambangan emas milik PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) kini berada di pusaran kritik tajam setelah warga menuding perusahaan tersebut sebagai dalang di balik petaka lingkungan yang merendam pemukiman mereka.
Setiap musim penghujan tiba, warga Desa Bakan di Kecamatan Lolayan dilanda kepanikan. Meluapnya Sungai Lolotut hingga setinggi lutut orang dewasa bukan lagi sekadar fenomena alam biasa. Warga dan aktivis menduga kuat bahwa penggundulan hutan di wilayah hulu oleh PT JRBM telah menghilangkan fungsi resapan air, membuat debit air terjun bebas tanpa penyangga langsung ke jantung desa.
“Debet air meningkat karena tak ada lagi pepohonan yang menyerap air sebagai penyangga. Akibatnya, banjir menerjang warga,” tegas Hery Lasabuda, Ketua LPKPK Sulawesi Utara.

Banjir kali ini bukan sekadar genangan. Berikut adalah fakta di lapangan, Akses Terputus: Jalan penghubung antar-desa lumpuh total, kendaraan tidak dapat melintas. Pemukiman Terdampak: Sedikitnya 55 rumah warga terendam air keruh.
Sementara itu, Kekesalan warga tidak lagi terbendung. Jagat media sosial, khususnya Facebook, dibanjiri unggahan keprihatinan sekaligus kecaman. Akun Ing Podomi menjadi salah satu yang memicu gelombang komentar pedas dari netizen yang menuntut tanggung jawab nyata dari pihak perusahaan.

Kini, desakan agar Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turun tangan semakin menguat. Warga menuntut pengkajian ulang secara menyeluruh terhadap izin dan keberadaan PT JRBM di wilayah tersebut sebelum alam memberikan peringatan yang lebih fatal.
Diketahui, peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Agustus 2025 lalu di titik yang sama. Banjir berulang ini memunculkan harapan masyarakat agar ada evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan di wilayah hulu, termasuk aktivitas pertambangan yang beroperasi di sekitar Desa Bakan.
Sementara itu, Kapolsek Lolayan, IPTU Johan Atang menjelaskan, bahwa banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan Sungai Lolotut meluap.
“Bencana banjir tersebut terjadi akibat hujan lebat, sehingga mengakibatkan air sungai Lolotut yang melintasi Desa Bakan meluap. Banjir terjadi di titik yang sama pada kejadian yang lalu,” jelasnya.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sekitar 55 rumah warga sempat tergenang, namun kondisi kini berangsur normal.
“Air setinggi lutut orang dewasa dan tidak mengakibatkan adanya korban jiwa. Saat ini situasi sudah aman dan kondusif,” tandas Kapolsek.
(emon).




































